Manusia Pendusta

Sang lisan dengan ringannya mengeluarkan kata-kata.
Begitupun manusia mengucap janji dengan mudahnya.
Tak sadarkah bahwa kelak kan diminta pembuktiannya.
Seolah pikirmu itu hanya akan berlalu saja.

Semalam padaku kau berkata iya.
Esoknya perbuatanmu menunjukkan hal yang berbeda.
Begitu mudahnya dengan janji engkau lupa.
Berbagai dalih dan alasan kau jadikan tameng dan senjata.

Semua butuh proses alasan yang pertama.
Semua butuh waktu alasan berikutnya.
Lalu apalagi yang akan kau bilang selanjutnya?
Begitu terus berulang sampai seterusnya.

Lelah sudah aku melihatmu terus mendusta.
Tak lagi ingin mendengarmu membual belaka.
Lanjutkan saja tingkahmu jika itu membuatmu bahagia.
Tapi maaf jika aku harus mengakhiri sampai di sini saja.

Advertisements
Posted in heart story | Tagged , , , , , | Leave a comment

Orang Ketiga (Bagian 3 – Aku)

Setelah aku berpikir sekian lama.
Aku tersadarkan oleh warasnya logika.
Ternyata aku terjebak dalam suasana.
Kenyamanan yang melenakan seluruh jiwa.

Aku berkaca dan melihat diriku ini siapa.
Tak pantas darimu aku mengharap apa-apa.
Terlalu hina jika aku kau bandingkan dengan dia.
Karena aku bukanlah orang seperti dia yang berharga.

Dia yang selalu berusaha menjaga firman Tuhannya.
Sedangkan aku? rutin membacanya saja sulitnya luar biasa.
Jika hal itu saja bisa dia jaga, apalagi hanya sekedar membuatmu bahagia.
Tentu itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukannya.

Ku harapkan semoga dia lelaki yang tepat menemanimu hingga masa tua.
Dan semoga pertemanan kita abadi sampai di surga.
Meskipun terkadang kau dengannya aku tak rela.
Tapi aku sadar, bahwa di sini aku hanyalah orang ketiga.

Posted in heart story | Tagged , , | 1 Comment

Orang Ketiga (Bagian 2 – Dia)

Sekian lama kujalani hidup bersamamu berdua.
Menjaga komunikasi di dunia nyata dan social media.
Tak terasa muncul getaran-getaran yang tak biasa.
Seolah menunggu untuk disampaikan kepadamu adinda.

Stop! itu bukanlah yang diinginkan oleh logika.
Bukankah tujuannya hanya berteman saja.
Mengapa sekarang perasaanmu yang aku minta?
Bodohnya aku jika sampai terjerumus pada lubang yang sama.

Lambat laun kepadaku kau mulai terbuka.
Tentang siapa yang dalam hatimu berkuasa.
Masa lalu yang masih kau simpan membuatku sedikit kecewa.
Setelah sekian lama aku masih tak menyangka.

Kukira kau akan berhenti mengharapkan dirinya.
Ternyata di jauh di lubuk hatimu masih terbesit asa.
Meskipun kau berdalih tak ingin ada luka.
Namun justru entah mengapa saat itu hatiku berduka.

Untuk mengatur atau melarangmu pun aku tak bisa.
Karena bagimu aku bukan siapa-siapa.
Dan bahkan kita berdua bukan apa-apa.
Karena di hatimu masih ada orang ketiga.

Posted in heart story | Tagged , , | Leave a comment

Orang Ketiga (Bagian 1 – Kamu)

Seorang gadis kini telah datang menyapa.
Membuat hidupku sedikit lebih berwarna.
Padahal banyak orang mendamba.
Mengapa aku yang dipilihnya?

Perlahan pesonamu mengaburkan dia.
Dia yang selalu kusebut dalam doa.
Dia yang sudah aku kenal lebih lama.
Dia yang sudah membuatku terbelenggu asmara.

Sudah lebih dari empat bulan perasaanku padanya bersemayam di dada.
Kata ilmuwan berarti itu tandanya jatuh cinta.
Lalu datang sosokmu yang masuk ke hidupku tiba-tiba.
Mengusik perasaan yang sudah lama bertahta.

Siapa gerangan dirimu wahai anak muda?
Kupanggil begitu karena kau lebih muda dari aku dan dia.
Kau yang selalu menawarkan tawa dan bahagia.
Dengan sikap sederhana berbalut manja.

Senyummu yang semanis gula membuat aku terpesona.
Tawamu yang jenaka bahkan bisa menghapus duka.
Keunikanmu membuatku kehabisan kata-kata.
Namun sayangnya, kau hanyalah orang ketiga.

Posted in heart story | Tagged , , | Leave a comment

Hati Yang Dirindu

Wahai hati yang selalu dirindu.
Kudengar hari ini kau kembali ke ibu.
Tak ada sambutan musik ataupun lagu.
Pun di sana tak kan kau temukan aku.
Bukan hanya sekedar karena malu.
Tapi juga tak ingin engkau tahu.

Sabarlah hingga kelak hadir “Sang Waktu”
Ketika dua keluarga menjadi satu.
Dalam balutan romantisme nan syahdu.
Semoga Tuhan menjaga kita selalu.
Hingga tiba saat yang ditunggu.
Jadilah engkau hati yang selalu ku rindu.

View on Path

Posted in heart story | Tagged , | Leave a comment

Memoar Rasa

Saat ada, tidak terasa.
Ketika hilang, baru dikenang.

Waktu aman, merasa nyaman.
Datang kemelut, akhirnya kalut.

Memilih kokoh, ataukah roboh?
Harusnya tahu, bukannya ragu.

Terus bergerak, sebelum diterak.
Hidup berarti, dibawa mati.

Jangan menyesal, jikalau gagal.
Hargai hidup, sebelum ditutup.

at Pondok Modern Darussalam Gontor

View on Path

Posted in heart story | Tagged , , , | Leave a comment

Pulang #2 (Ditinggalkan Dan Meninggalkan)

Satu kata yang bisa didefinisikan dua arti.
Perpisahan dan pertemuan yang selalu melengkapi.
Berpisah dengan yang ditinggal dan bertemu dengan yang dituju.
Ada kebahagiaan disertai dengan nada sendu.

Ketika pulang, banyak orang mengedepankan bahagia.
Mengesampingkan rasa yang ditinggal akan penuh duka.
Pikirmu akan bisa bertemu lagi dengan penuh yakin.
Padahal di dunia ini tidak ada yang pantas untuk menjamin.

Jika memang ini pertemuan yang terakhir.
Mengapa tidak kenangan yang terbaik kau ukir.
Jangan sampai gagal menghapus duka yang kau tinggal.
Daripada di ujung sana hanya bisa meratap dan menyesal.

Banyak manusia yang senang ketika didewakan.
Ketika datang ada penyambutan, ketika pergi ada pelepasan.
Apakah adil jika hanya salah satu saja yang dilaksanakan?
Itulah yang sedang dirasakan oleh bulan Ramadhan.

Written at Karanganyar, 30 Ramadhan 1437 H (Selasa, 5 Juli 2016) at Vasco’s Home

View on Path

Posted in heart story | Tagged , , , , | Leave a comment

Pulang #1 (Perjalanan Untuk Kembali)

Sebuah kata yang banyak orang senang untuk menanti.
Karena berarti balik ke tempatnya yang asli.
Di negeriku, puncaknya adalah ketika Idul Fitri.
Semuanya berbondong-bondong untuk kembali.
Ke tempat di mana berkumpul sanak famili.

Puluhan jam waktu akan tetap dijalani.
Ratusan kilometer jarak akan tetap dilalui.
Lelah, letih, kantuk, panas, hujan tak akan kalian peduli.
Karena ada faktor yang selalu memotivasi.
Bahwa keluarga di sana sedang menanti.

Harus diingat bahwa bukan kalian saja yang akan pergi.
Bulan yang suci ini juga akan pergi tanpa disadari.
Tanpa jaminan untuk dipertemukan lagi.
Karena tak ada yang tahu kapan maut menghampiri.
Persiapkan dengan matang dan jangan lupa untuk selalu hati-hati.

Written at Karanganyar, 30 Ramadhan 1437 (Selasa, 5 Juli 2016) – with Nurul, RizkyšŸšŗ, Istiqomah Nur, and šŸ‘« at Alun – Alun Karanganyar

View on Path

Posted in heart story | Tagged , , , , , | Leave a comment

Angan Semu

DSC_0147.JPG

Angan semu yang selalu mengganggu

Datang tak kenal waktu

Perasaan yang selalu tersapu

Terbawa harapan yang menggebu

 

Terkadang hati terpasung rindu

Merubah jiwa jadi kelabu

Tak bisakah ia segera berlalu

Agar ku bisa terus melaju

 

Sampai kapan kan mendera kalbu

Apakah diabaikan, atau tak mau tau?

Lalu ke mana ku harus menuju

Jika yang ku tahu hanyalah kamu

 

Terekam dalam memori hari minggu

Sekian lama kita tak bertemu

Kunantikan saat terulang kembali waktu

Kali ini aku yang ke rumahmu untuk bertamu

 

Tak tau apakah akan disambut di depan pintu

Atau malah akan dilemparĀ denganĀ batu

Kuharap kau bisa hapus semua ragu

Dan bisa memanggil orang yang sama dengan sebutan ibu

 

Maafkanku yang tak tahu malu

Tak pernah tahu apa yang kamu mau

Semoga hatimu tak sekeras batu

Agar kau tak hanya jadi angan semu

Posted in heart story | Tagged , | 2 Comments

Merapi Mountaineering, 2968 mdpl

This story started at 25th of October 2013 when my friend Abas sent me message that he asked me to accompany him to go to Mt. Merapi. It was on the night and without thinking anymore I accepted his offer. Then, Friday 26th of October 2013 after ashar I went to his boarding house and gather with other people who will be the leader because their experiences.Ā  So, we went to Selo, Boyolali where the base camp located. The trip spent about 2 hours until we arrived at the base camp at 09.00 o’clock. For our exhausting, we decided to take a rest and start to mountaineer at 01.00 early morning. While the other were sleeping, I and Abas were speaking with the foreigner came from Florida, U.S. America. He just mountaineered at Lawu before he came to Merapi with his guide from Solo. I was attracted with that guy because he came to Indonesia just for mountaineering the mounts while the other tourists from abroad mostly come to Bali or Jogja to enjoy the beaches and statues. Then, at 01.30 we started the trip. When we arrived at National Park, the train was so heavy and drenched us, so we decided to take shelter. In the shelter, there was woman mountaineer from Japan who chilled and shivered and she was helped by one of mountaineer who also took shelter there. We tightened our range to make her warmer. After some procedures was done, the helper decided to bring her down because she cannot be forced to continue, if they did, she’ll die. At the time, we decided if the rain didn’t stop, we did not continue our trip. Finally, it stopped at 03.00 and we continued our way.

We arrived at Check Point 3 at 05.00, then we decided to take a rest for a while. We pray Subuh and cooked some noodle to eat. We carried on our way and we arrived at Pasar Bubrah which is the last Check Point before summit at 06.30. We took some picture there and then we tried to reach the peak. For the bad weather reason, we cannot continue our journey.

After having some rest, we decided to descend to the base camp. In the middle of our way to New Selo, we met with the group of mountaineer who brought the huge Indonesia’s flag which theĀ  wide about 1000 m2. They want to celebrate “Hari Sumpah Pemuda” at Pasar Bubrah. There were 8 persons who brought it hardly. By the time we arrived to base camp at New Selo, we took a rest for a while and there was sharing knowledge session about mountaineering from our senior. We cleaned our bodies and we prayed also ate. Around 15.00 we started to go back to Jogja and we arrived at 21.00 in our boarding house. This journey was full of lesson and experience. I like it.

Posted in notes | Tagged , , , | Leave a comment